4 Tipe Program Experience-Based Training & Development (EBTD) Menurut Dr. Simon Priest: Karakteristik & Aplikasinya

Dr. Simon Priest merupakan seorang pakar outdoor education berbasis experiential learning (dengan spesialisasi adventure-based education) asal Amerika Serikat. Dan, Experience-based Training & Development (EBTD)* ialah nama program yang digagas oleh Dr. Simon Priest ketika meneliti tentang adventure-based education.


*Experience-based Training & Development (EBTD) merupakan istilah yang populer digunakan di Amerika Serikat. Sedangkan, beberapa negara lain menggunakan istilah berbeda. Misalnya, di Britania Raya (sekarang: Inggris), istilah yang dipergunakan, yaitu ‘Outdoor Management Development’ (OMD); di Kanada & Australia, istilah yang dipergunakan, yaitu ‘Corporate Adventure Training’ (CAT).

Sumber: Priest, S. (1996). A Research Summary for Corporate Adventure Training (CAT) and Experience-Based Training and Development (EBTD).


PENGANTAR

Apa yang terlintas dipikiran anda ketika membaca/mendengar kata ‘outbound’?

Berdasarkan pengalaman kami bertemu banyak klien/calon klien sejak tahun 2008 hingga sekarang, setidaknya ada 2 persepsi umum yang kami peroleh. Kedua persepsi tersebut merujuk pada fungsi outbound bagi para klien/calon klien kami, yaitu:

  • Outbound sebagai alternatif bentuk kegiatan outing/gathering
  • Outbound sebagai metode pelatihan yang mengembangkan team-building/leadership

Di satu sisi, tidak ada yang keliru dengan 2 persepsi di atas; namun, di sisi lain, keduanya belum sepenuhnya tepat. Fakta tersebut mendorong kami untuk menerbitkan artikel SPOT kali ini; supaya uraian dalam artikel ini dapat melengkapi pemahaman anda, khususnya para pengguna/calon pengguna jasa layanan outbound.

KAITAN ANTARA PROGRAM ‘EXPERIENCE-BASED TRAINING & DEVELOPMENT’ (EBTD) & PROGRAM OUTBOUND

Di Indonesia, penggunaan istilah ‘outbound’ umumnya merujuk pada 3 hal, yaitu:

  1. Kegiatan luar ruangan (misalnya: rope-course);
  2. Metode pembelajaran luar ruangan (indoor vs outdoor); dan
  3. Program pelatihan & pengembangan luar ruangan (misalnya: adventure-based training)

Sebagai sebuah program pelatihan & pengembangan luar ruangan, outbound memiliki beberapa kemiripan dengan program EBTD, antara lain:

Oleh karena itu, pembahasan artikel SPOT kali ini (tentang 4 tipe program EBTD menurut Dr. Simon Priest) diharapkan dapat melengkapi pemahaman anda tentang outbound*.

4 TIPE PROGRAM ‘EXPERIENCE-BASED TRAINING & DEVELOPMENT’ (EBTD) MENURUT DR. SIMON PRIEST DAN KARAKTERISTIKNYA

Dr. Simon Priest mengkategorikan program EBTD menjadi 4 tipe, yaitu:

  • Recreational;
  • Educational;
  • Developmental; dan
  • Redirectional.

Keempat tipe program EBTD tersebut dikategorikan berdasarkan tujuan suatu organisasi mengikutsertakan personilnya dalam sebuah program pelatihan & pengembangan. Karena setiap tipe program EBTD menyasar pada tujuan yang berbeda-beda, keempatnya memiliki karakteristik masing-masing (lihat gambar tabel “Karakteristik 4 Tipe Program EBTD” di bawah).

Lalu, bagaimana karakteristik 4 tipe program EBTD tersebut dijabarkan ke dalam program outbound? Berikut ini uraian ringkas kami tentang penjabaran 4 tipe program EBTD ke dalam program outbound.

Karakteristik 4 Tipe Program ‘Experience-based Training & Development’ (EBTD)

#1 – Program Outbound Tipe Recreational

Program outbound yang mengacu pada tipe pertama ini dirancang untuk men-stimulasi perubahan yang bersifat afektif (change the way people feel).

Caranya, dengan melibatkan para peserta outbound dalam aktivitas-aktivitas yang menitikberatkan pada perihal action emphasis. Tujuannya, agar setiap peserta memiliki pengalaman pada aktivitas tertentu, dan mengetahui gejolak emosi yang dirasakan oleh dirinya sendiri maupun peserta lain melalui pengalaman tersebut.

Umumnya, program outbound dengan tipe recreational ini tidak berkaitan (disconnected) dengan sasaran pengembangan organisasi (organizational development goals). Sehingga, dampaknya terhadap kondisi organisasi (organizational impact) juga berada pada tingkat minimum, bahkan berkemungkinan tidak ada dampak sama sekali.

#2 – Program Outbound Tipe Educational

Program outbound dengan tipe kedua ini dirancang untuk mengubah respon-respon kognitif (change the way people think).

Caranya, lewat pelibatan para peserta outbound pada berbagai aktivitas yang menitikberatkan pada perihal reflection added. Tujuannya, agar setiap peserta menyadari bahwa dirinya memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu dalam berperilaku, yang dapat mempengaruhi kinerja personal maupun kelompok.

Umumnya, program outbound yang mengacu pada tipe educational ini bersinggungan dengan sasaran pengembangan organisasi (aware & related). Karena fokus utamanya terletak pada perubahan di tingkat individual, yang diharapkan bisa menghasilkan dampak terhadap organisasi.

#3 – Program Outbound Tipe Developmental

Program outbound yang mempergunakan tipe ketiga ini dirancang untuk men-stimulasi terjadinya perubahan perilaku (change the way people behave).

Caranya, para peserta outbound dilibatkan dalam setiap aktivitas yang menitikberatkan pada perihal transfer of learning. Tujuannya, agar setiap peserta (dengan hasil pembelajarannya masing-masing) dapat saling berbagi pengalaman, pemahaman dan penghayatan kepada peserta lain; yang kemudian, melalui proses berbagi tersebut, akan muncul pencerahan yang mampu mendorong terjadinya perubahan di dalam kelompok.

Umumnya, program outbound bertipe developmental ini terintegrasi dengan sasaran pengembangan organisasi (well-integrated). Dengan begitu, hasil dari program developmental yang telah dilakukan dapat berdampak terhadap perubahan pola-pola kerja individual dalam menjalankan sebuah sistem organisasi.

#4 – Program Outbound Tipe Redirectional

Program outbound bertipe redirectional dirancang untuk memunculkan perubahan pada perilaku-perilaku yang dianggap memiliki sisi negatif (change the way people resist)—menghasilkan efek therapeutik.

Caranya, dengan mendorong keterlibatan setiap peserta outbound di dalam aktivitas-aktivitas yang menitikberatkan pada perihal supported transfer. Tujuannya, agar para peserta menyadari “sisi buruk” di dalam dirinya yang berpotensi menghambat/mengganggu pencapaian tujuan organisasi; dan juga, agar masing-masing peserta berinisasi untuk mengarahkan perilaku buruknya tersebut menjadi lebih baik (efek therapeutiknya).

Umumnya, program outbound bertipe redirectional ini memiliki keterkaitan yang tidak bisa dilepaskan dari sasaran pengembangan organisasi (seamless connection). Program redirectional yang efektif dapat meminimalisir kemunculan perilaku-perilaku organisasi yang problematik/tidak produktif. Hasil redirectional yang diperoleh mampu memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas kerja personil maupun optimalisasi penerapan sistem organisasi.

APLIKASI 4 TIPE PROGRAM ‘EXPERIENCE-BASED TRAINING & DEVELOPMENT’ (EBTD) DI DALAM PROGRAM OUTBOUND

Meskipun 4 tipe program EBTD di atas memiliki perbedaan karakteristik, pengaplikasiannya ke dalam program outbound seringkali terjadi tumpang tindih. Implikasinya, sebuah program outbound dapat memunculkan beberapa karakteristik khas di antara keempat tipe tersebut.

Dr. Simon Priest, dalam artikelnya yang berjudul “Experiential Learning Methodology”, memberikan contoh kasus tentang ketumpangtindihan tersebut di sebuah organisasi.

A company uses group problem solving tasks at a conference to make attendees happy and to get them mingling (recreation). The company uses similar tasks to demonstrate the value of teamwork and to introduce their new team strategies (education). Once the benefit of teaming is evident, the company uses problem solving tasks to actually build new teams (development). Lastly, one group is not getting along very well–they withhold information, sabotage change efforts, and distrust one another–so the company uses similar tasks to help them become more effective in their work (redirection).

Berdasarkan pengalaman kami, tumpang tindihnya pengaplikasian 4 tipe program EBTD ke dalam program outbound bisa muncul karena sengaja dikondisikan untuk menyesuaikan dinamika kegiatan yang terjadi selama program pelatihan & pengembangan tersebut masih berlangsung.

Pengkondisian tersebut kami lakukan setelah melewati proses analisis resiko, dengan mempertimbangkan manajemen resiko yang memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan para peserta outbound; sambil tetap berkoordinasi dengan pihak klien dan mendapatkan persetujuan dari mereka; serta, masih sesuai dengan tujuan program outbound yang telah disepakati bersama antara kami dan klien.

Pada sebagian kasus yang kami hadapi di lapangan, ketumpangtindihan tersebut justru menunjang efektivitas pencapaian tujuan yang kami rancang. Dengan catatan, pra-kondisi yang kami sebutkan di atas telah dipenuhi terlebih dahulu.

PENUTUP

Melalui pembahasan tentang 4 tipe program ‘Experience-based Training & Development’ (EBTD) di dalam terbitan artikel SPOT kali ini; kami berharap anda memperoleh tambahan pemahaman mengenai penjabaran karakteristik masing-masing tipe EBTD ke dalam program outbound; maupun pengaplikasian keempat tipe EBTD yang biasanya terjadi di dalam program outbound.

Uraian yang terdapat di dalam artikel ini merujuk pada beberapa referensi yang kami tulis pada bagian akhir; maupun yang kami sertakan langsung pada beberapa tautan dalam bagian-bagian tulisan tertentu di atas. Selain itu, juga didasarkan pada pengalaman kami dalam menjalankan program outbound yang kami rancang.

Apabila anda ingin mendiskusikan 4 tipe program EBTD tersebut, silahkan tulis komentar anda pada kolom di bawah ini. Atau, jika anda masih ragu-ragu untuk menetapkan tujuan program pelatihan & pengembangan anda berdasarkan 4 tipe program EBTD tersebut, silahkan pilih salah satu kanal yang kami sediakan bagi anda untuk menghubungi kami.

Akhir kata, kami mohon maaf jika ada kesalahan penulisan yang dilakukan tanpa sengaja. Hal tersebut murni bentuk kekhilafan kami, semoga anda dapat memakluminya.

Sekian, dan terima kasih.

REFERENSI

  • Bronson, J., Gibson, S., Kichar, R., & Priest, S. (1992). Evaluation of Team Development in a Corporate Adventure Training Program. Journal of Experiential Education, 15(2), 50–53.
  • Carpenter, G., & Priest, S. (1989). The adventure experience paradigm and non-outdoor leisure pursuits. Leisure Studies, 8(1), 65–75.
  • Priest, S. (1996). A Research Summary for Corporate Adventure Training (CAT) and Experience-Based Training and Development (EBTD).
  • Priest, S., Attarian, A., & Schubert, S. (1993). Conducting Research in Experience-Based Training and Development Programs-Pass Keys to Locked Doors. Journal of Experiential Education, 16(2), 11–20.
  • Priest, S., & Gass, M. A. (2006). The Effectiveness of Metaphoric Facilitation Styles in Corporate Adventure Training (CAT) Programs. Journal of Experiential Education, 29(1), 78–94.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *